Khutbah Jumat Singkat: Sunnah-Sunnah di Hari Tasrik
Khutbah Jumat Singkat: Sunnah-Sunnah di Hari Tasrik ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 12 Dzulhijjah 1447 H / 29 Mei 2026 M.
Khutbah Jumat Pertama: Sunnah-Sunnah di Hari Tasrik
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
Di hari-hari ini, umat Islam disyariatkan untuk menikmati makanan dan minuman. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
جمع الناس للطعام في العيدين وأيام التشريق سنة وهو من شعائر الإسلام التي سنها رسول الله صلى الله عليه وسلم للمسلمين
“Mengumpulkan orang-orang untuk makan pada dua hari raya dan hari-hari Tasyrik merupakan bagian dari syiar Islam dan sunnah yang telah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam syariatkan untuk umatnya.”
Makan dan minum merupakan nikmat besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya, karena tanpa makan dan minum manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Mengingat nikmat tersebut menjadi sebab utama yang mendorong seorang hamba untuk senantiasa bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 9)
Setiap manusia pada hakikatnya berada dalam kondisi lapar, kecuali mereka yang telah dianugerahi rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua berada dalam kelaparan kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan.” (HR. Muslim)
Terlebih lagi rezeki dan makanan yang halal, hal tersebut merupakan makanan yang penuh berkah dan telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adab dan Niat dalam Makan dan Minum
Saat menikmati makanan dan minuman, terdapat beberapa perkara penting yang harus diperhatikan oleh setiap muslim:
- Meluruskan Niat: Kegiatan makan dan minum hendaknya diniatkan untuk dua hal utama. Pertama, untuk menghidupkan syiar Islam. Kedua, agar tubuh memperoleh kekuatan dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niat yang benar inilah yang mengubah aktivitas duniawi menjadi bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, makan yang sekadar makan tanpa adanya niat ibadah sama sekali tidak akan membuahkan pahala.
- Berzikir kepada Allah: Sebelum mulai menyantap hidangan, ucapan bismillah harus dilafalkan, dan setelah selesai makan hendaknya mengucapkan alhamdulillah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ . إِلاَّ كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ
“Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu hamba tersebut mengucapkan ‘Alhamdulillah’, kecuali apa yang Allah berikan berupa ucapan alhamdulillah itu lebih baik daripada kenikmatan yang ia terima.” (HR. Ibnu Majah)
Melalui ucapan alhamdulillah, seorang hamba tidak hanya memperoleh keberkahan nikmat rezeki, melainkan juga mendapatkan pengampunan atas dosa-dosanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang memakan suatu makanan lalu setelahnya mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini kepadaku dan memberikan rezeki ini kepadaku tanpa daya dan upaya dariku’, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud)
Perkara berikutnya yang wajib diperhatikan adalah larangan bersikap berlebih-lebihan dalam hal porsi makanan dan minuman. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan larangan ini di dalam Al-Qur’an:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf[7]: 31)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah memberikan bimbingan yang sangat mulia mengenai tata cara makan yang sehat bagi tubuh manusia. Beliau bersabda:
ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه
“Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat ia masukkan ke perutnya untuk menegakkan tulang punggungnya.” (HR. Tirmidzi)
Jika kondisi menuntut seseorang untuk mengisi perutnya melebihi beberapa suap, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan batas maksimal melalui sabdanya:
فإن كان لا محالة؛ فتلث لطعامه وثلث لشرابه، وثلث لنفسه
“Jika tidak mudarat, maka jadikanlah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi)
Imam Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa metode pembagian isi perut ini merupakan cara makan yang paling sehat berdasarkan kesepakatan seluruh ahli kesehatan. Siapa pun yang memperhatikan panduan ini, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan dianugerahi kesehatan.
Sikap berlebih-lebihan dalam makan dan selalu menuntut kekenyangan setiap kali menghadapi hidangan bukanlah petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang diperbolehkan sesekali makan sampai kenyang, namun hal tersebut tidak boleh dijadikan sebagai kebiasaan sehari-hari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat tidak membiasakan diri untuk selalu kenyang pada setiap waktu makan. Pembatasan ini sangat krusial karena konsumsi makanan yang berlebihan menjadi sumber timbulnya berbagai macam penyakit di dalam tubuh.
Umat Islam disunnahkan untuk makan secara bersama-sama (berjamaah). Keberkahan di dalam syariat diturunkan pada tiga perkara, yang salah satunya adalah aktivitas berjamaah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiasakan diri untuk menyantap hidangan secara bersama-sama dengan para sahabat. Kebiasaan ini akan mendatangkan nilai keberkahan yang jauh lebih besar bagi kaum muslimin.
Anjuran ini semakin ditekankan pada hari-hari Tasyrik. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah, aktivitas mengumpulkan manusia untuk makan bersama pada dua hari raya dan hari-hari Tasyrik merupakan bagian dari syiar Islam yang agung serta sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Khutbah Jumat Kedua: Sunnah-Sunnah di Hari Tasrik
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela cara makan orang-orang kafir yang menikmati hidangan tanpa aturan dan adab. Kehidupan mereka digambarkan seperti hewan ternak yang tidak memiliki orientasi ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Dan orang-orang kafir menikmati kesenangan dunia dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang ternak. Dan nerakalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad[47]: 12)
Binatang ternak hanya berfokus pada aktivitas makan tanpa henti, dan seorang muslim tidak layak menjadikan hidupnya sebatas untuk urusan kuliner semata. Oleh karena itu, hari-hari Tasyrik ini harus diisi dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan sekadar menghabiskannya untuk makan dan minum.
Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak lantunan takbir, baik takbir mutlak maupun takbir muqayyad, sebagaimana yang ditegaskan oleh para imam empat mazhab. Aktivitas berdzikir akan memberikan kekuatan di dalam hati serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai kedudukan amalan zikir ini:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى
“Maukah aku beritahukan kepada kalian amal yang paling utama dan paling suci di sisi Penguasa kalian (Allah), serta paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian, bahkan lebih utama bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik daripada kalian bertemu dengan musuh lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian? Para sahabat menjawab: ‘Tentu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Berzikir kepada Allah Ta’ala’.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, dan Ahmad)
Bagi setiap laki-laki dan wanita yang senantiasa membasahi lidahnya untuk berzikir, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan dua karunia yang sangat besar, yaitu ampunan dan pahala yang melimpah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 35)
Download mp3 Khutbah Jumat: Sunnah-Sunnah di Hari Tasrik
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Sunnah-Sunnah di Hari Tasrik” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56291-khutbah-jumat-singkat-sunnah-sunnah-di-hari-tasrik/